Rabu, 13 Januari 2016

Kurozuki Ren's Past

Based on a nightmare.
This story is purely consisted of OCs.


........................................................................

“Nee-san! Ayo cepat!”

Gadis berambut hitam itu tersenyum. Masih mengenakan jas putihnya, ia menghampiri adiknya, yang menatapnya dengan mata berbinar. “Nee, Yukito-nee-san!” panggil anak itu lagi. “Sabarlah, Ren. Kanato masih beli cemilan.” kata Yukito. Ren hanya cemberut mendengarnya. “Lamanya...”

“Oooooiiiii!”

Ren refleks menoleh ke sumber suara itu. Dilihatnya seorang anak laki-laki yang mirip dengannya--namun dengan warna rambut metalik--sedang berlari ke arahnya, dengan bungkus plastik berisi permen coklat di tangan. “Kanato!” panggil Ren. “Kamu lama!” “Maaf, maaf.” Kanato menggaruk belakang kepalanya, lalu menarik tangan Ren dan Yukito. “Aku menemukan tempat bagus untuk makan! Ayo!” Bocah itu lalu menyeret kedua kakaknya ke sebuah hutan, yang letaknya beberapa puluh meter di bawah lintasan roller coaster.

Tepat saat itu penglihatan Ren mengabur, disertai dengan suara aneh yang menggema di kepalanya.

[Tidak! Jangan ke sana, Ren!!]

........................................................................

Gelap.

Pemandangan mengerikan terlihat begitu Ren membuka matanya... menurut pikirannya. Sejak tadi matanya tidak tertutup, namun penglihatannya mengatakan sebaliknya.

Potongan tubuh dengan organ yang menyembul keluar. Bola mata. Darah segar. Tercecer di sekelilingnya yang sedang berdiri mematung. Gaun pink yang ia kenakan dipenuhi darah, begitu juga kedua tangannya. Seolah dirinya-lah yang melakukan semua ini.

Beberapa potongan kepala tanpa mata tidak jauh dari sana membuat gadis itu semakin ketakutan. Ia tak perlu mendekat, karena ia mengenal pemilik kepala-kepala itu. Mendekat hanya akan memperburuk keadaan.

Yukito.
Kanato.
Dan... kedua orang tuanya.

“Nee-san... Ka... Kana...to...”

Lagi-lagi gelap.

........................................................................

“Kurozuki-chan?”

Bayang-bayang seorang gadis berambut hitam panjang terlihat agak samar. Ren memegangi belakang kepalanya, berusaha duduk. “Naosaka...” ucapnya lirih. “Aku tertidur, ya?”

Naosaka mengangguk, lalu berkata dengan nada memprotes, “Kalau kau memanggilku Naosaka, nanti sulit membedakannya dengan adikku. Panggil saja Akemi.” “Aku tidak terbiasa memanggil orang lain dengan nama depan, Naosaka.” Ren menurunkan kakinya dari tempat tidur. Matanya terpaku pada sebingkai foto keluarga yang terpajang di sudut meja belajarnya. “Kecuali...”

“Mereka, tentu saja.” Naosaka mengambil foto itu. “Lagi-lagi aku mimpi buruk tentang mereka...” Ren memijat pelipisnya. “Aku sering bermimpi melihat mayat mereka semua dalam keadaan terpotong-potong, mata tercongkel, usus keluar, paru-paru tercabik... ugh, mengerikan pokoknya. Di hutan yang di bawah roller coaster taman. Aku hanya berdiri di sana, memandangi mayat mereka. Gaun dan tanganku berlumuran darah.” jelasnya. “Aww~ sadisnya...” hanya itu komentar Naosaka, sebelum menarik Ren ke pelukannya.

“Eh--?”

“Lupakanlah mimpi buruk itu, Kurozuki-chan. Ada aku di sini. Kau tidak akan kesepian lagi.” ucap Naosaka sambil mengelus rambut Ren, lalu turun ke punggungnya. Ren membalas pelukan gadis itu sambil berbisik, “Terima kasih--”

<<JLEB!>>

Punggung hingga jantungnya serasa ditusuk sesuatu. Mata biru gelapnya melebar seketika. “Nao...saka...” gumamnya terbata. Bagian belakang kemejanya terasa basah. Darah mengalir turun dari mulutnya. Samar-samar dilihatnya wajah Naosaka yang tersenyum, dipenuhi nafsu membunuh.

Naosaka mencabut pisaunya dari punggung Ren dan mendorongnya hingga jatuh. “Argh!!” Ren memuntahkan darah sebelum benar-benar ambruk ke lantai. Ia menatap Naosaka dari ujung rambut ke ujung kaki, dan ada sesuatu yang berbeda dari si rambut hitam itu. “Kau... kau bukan Naosaka Akemi yang kukenal!!” serunya. “Memang bukan.” Naosaka menyeringai kejam, “Aku bukan Naosaka Akemi, tapi Naosaka Akane. Tapi kau tidak perlu mengingatnya, Kurozuki Ren, karena sebentar lagi kau akan menyusul keluargamu, orang-orang yang kucincang beberapa minggu lalu.” Ia menginjak luka di punggung Ren, membuatnya berteriak kesakitan. “AAAAAAAAAAAARGH!!”

Naosaka menarik rambut Ren, memaksanya untuk mengangkat kepalanya. Lalu terkekeh sambil berbisik di telinganya, “Aku selalu ingin melenyapkanmu. Ternyata mudah sekali. Bersenang-senanglah di neraka, ‘teman’.” Setelah itu ia beranjak pergi, meninggalkan Ren yang terbaring penuh darah, di ambang maut.

........................................................................
==3 tahun kemudian==
........................................................................

“Yo, Ren!” sapa Loki yang baru masuk kelas. Nadanya enteng seperti biasa, seolah terlambat bukan masalah besar baginya. Kenyataannya, dia melewatkan satu mata kuliah. Sesungguhnya Ren ingin mencekik bocah pirang ini, tapi keadaan tidak mengizinkan.

“Ren?”

Ren hanya mendelik ke arah Loki, sebelum melanjutkan bacaannya. Loki hanya menghela napas, sudah terlalu terbiasa dengan sikap gadis ini. Setelah menaruh tasnya, ia mendekati Ren dan bertanya, “Kenapa kau tidak berbaur dengan yang lainnya?” “Aku tidak suka punya teman, Friedlandia. Teman adalah malaikat maut yang paling sadis.” jawab Ren. Loki hanya terdiam, menyadari betapa gelapnya mata Ren saat memberikan jawaban itu. “Tapi, kau mau berteman denganku, kan?” tanyanya lagi. Di luar dugaan, Ren tersenyum. Senyumnya manis dan lembut.

“Berteman dengan ayah sendiri terdengar... menyenangkan.”

Loki membalas senyuman itu dengan kekehan pelan. Benar juga, dia inkarnasi Loki dan Ren inkarnasi Hel. Mereka ayah dan anak... yang sekarang, dan seterusnya akan menjadi teman.


==End==

........................................................................

==Bonus Scene==

Ren hanya diam. Pikirannya kacau, sulit baginya menerima kenyataan kalau selama ini dirinya berteman dengan orang yang justru ingin membunuhnya. Setitik kebencian terlintas di otaknya. Ia ingin mengejar Naosaka dan menghabisinya. Namun dia sendiri sedang menuju kematiannya.

[Ren! Ren!!]

Matanya mengerjap. Suara itu lagi, eh?

[Ren!!]

Penglihatannya redup. Di sela-sela kegelapan yang menguasai, dapat dilihatnya sesuatu yang melayang. Sebuah emblem yang berbentuk kepala serigala. “Jadi itu kau...”

[Ren, ambil Ornament ini dan jadilah vessel-ku.]

“Eh...?”

[Kau masih ingin hidup, kan?]

“Tunggu... kenapa... aku harus melakukannya? Apa untungnya... bagiku...?”

[Aku akan menyembuhkanmu, dan kau bisa membalaskan dendammu.]

...Dendam. Mungkin itu yang ia rasakan sekarang. Tapi kondisinya...

“Benarkah...?”

<<Deg...>>

Ia bisa merasakan detak jantungnya melemah.

[Ren!!]

“Bodoh... aku... sudah mau mati, tau...”

Tapi tangannya tetap berusaha meraih benda itu--Ornament--apalah itu namanya. Napasnya sudah nyaris tak terdengar saat ujung jarinya menyentuh benda itu.

‘Tidak ada waktu lagi... cepatlah... berikan aku kekuatanmu...’

........................................................................

Hening.

Tangannya jatuh. Tubuhnya sudah tak bergerak. Matanya perlahan menutup.

‘Apa aku...’

[...gagal?]

<<Sriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing...>>

Sesuatu di genggaman Ren mengeluarkan sinar kebiruan, yang lalu menyelimuti tubuhnya. Perlahan luka di punggungnya menutup.

[Ren...]

‘Hnn?’

[Bangunlah.]

Ren membuka matanya, lalu bangkit dari ‘tidur’nya. “Aku merasa lebih baik.” gumamnya. Ia lalu membuka genggamannya dan tersenyum. Berhasil. Ia berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.

[Nah, mulai sekarang kau adalah vessel-ku. Aku Hel, dewi penjaga Helheim.] Benda di tangannya bersuara. “Salam kenal, Hel. Aku tidak begitu mengerti apa maksudmu dengan ‘vessel’, tapi aku tidak ingin berteman denganmu.” kata Ren.

Ren benar-benar yakin kalau hubungan mereka tidak lebih dari dewi-inkarnasi, namun lama kelamaan dia pasti akan menganggap Hel lebih dari itu.