Based on a nightmare.
This story is purely consisted of OCs.
........................................................................
“Nee-san! Ayo cepat!”
Gadis berambut hitam itu tersenyum. Masih mengenakan jas putihnya, ia menghampiri adiknya, yang menatapnya dengan mata berbinar. “Nee, Yukito-nee-san!” panggil anak itu lagi. “Sabarlah, Ren. Kanato masih beli cemilan.” kata Yukito. Ren hanya cemberut mendengarnya. “Lamanya...”
“Oooooiiiii!”
Ren refleks menoleh ke sumber suara itu. Dilihatnya seorang anak laki-laki yang mirip dengannya--namun dengan warna rambut metalik--sedang berlari ke arahnya, dengan bungkus plastik berisi permen coklat di tangan. “Kanato!” panggil Ren. “Kamu lama!” “Maaf, maaf.” Kanato menggaruk belakang kepalanya, lalu menarik tangan Ren dan Yukito. “Aku menemukan tempat bagus untuk makan! Ayo!” Bocah itu lalu menyeret kedua kakaknya ke sebuah hutan, yang letaknya beberapa puluh meter di bawah lintasan roller coaster.
Tepat saat itu penglihatan Ren mengabur, disertai dengan suara aneh yang menggema di kepalanya.
[Tidak! Jangan ke sana, Ren!!]
........................................................................
Gelap.
Pemandangan mengerikan terlihat begitu Ren membuka matanya... menurut pikirannya. Sejak tadi matanya tidak tertutup, namun penglihatannya mengatakan sebaliknya.
Potongan tubuh dengan organ yang menyembul keluar. Bola mata. Darah segar. Tercecer di sekelilingnya yang sedang berdiri mematung. Gaun pink yang ia kenakan dipenuhi darah, begitu juga kedua tangannya. Seolah dirinya-lah yang melakukan semua ini.
Beberapa potongan kepala tanpa mata tidak jauh dari sana membuat gadis itu semakin ketakutan. Ia tak perlu mendekat, karena ia mengenal pemilik kepala-kepala itu. Mendekat hanya akan memperburuk keadaan.
Yukito.
Kanato.
Dan... kedua orang tuanya.
“Nee-san... Ka... Kana...to...”
Lagi-lagi gelap.
........................................................................
“Kurozuki-chan?”
Bayang-bayang seorang gadis berambut hitam panjang terlihat agak samar. Ren memegangi belakang kepalanya, berusaha duduk. “Naosaka...” ucapnya lirih. “Aku tertidur, ya?”
Naosaka mengangguk, lalu berkata dengan nada memprotes, “Kalau kau memanggilku Naosaka, nanti sulit membedakannya dengan adikku. Panggil saja Akemi.” “Aku tidak terbiasa memanggil orang lain dengan nama depan, Naosaka.” Ren menurunkan kakinya dari tempat tidur. Matanya terpaku pada sebingkai foto keluarga yang terpajang di sudut meja belajarnya. “Kecuali...”
“Mereka, tentu saja.” Naosaka mengambil foto itu. “Lagi-lagi aku mimpi buruk tentang mereka...” Ren memijat pelipisnya. “Aku sering bermimpi melihat mayat mereka semua dalam keadaan terpotong-potong, mata tercongkel, usus keluar, paru-paru tercabik... ugh, mengerikan pokoknya. Di hutan yang di bawah roller coaster taman. Aku hanya berdiri di sana, memandangi mayat mereka. Gaun dan tanganku berlumuran darah.” jelasnya. “Aww~ sadisnya...” hanya itu komentar Naosaka, sebelum menarik Ren ke pelukannya.
“Eh--?”
“Lupakanlah mimpi buruk itu, Kurozuki-chan. Ada aku di sini. Kau tidak akan kesepian lagi.” ucap Naosaka sambil mengelus rambut Ren, lalu turun ke punggungnya. Ren membalas pelukan gadis itu sambil berbisik, “Terima kasih--”
<<JLEB!>>
Punggung hingga jantungnya serasa ditusuk sesuatu. Mata biru gelapnya melebar seketika. “Nao...saka...” gumamnya terbata. Bagian belakang kemejanya terasa basah. Darah mengalir turun dari mulutnya. Samar-samar dilihatnya wajah Naosaka yang tersenyum, dipenuhi nafsu membunuh.
Naosaka mencabut pisaunya dari punggung Ren dan mendorongnya hingga jatuh. “Argh!!” Ren memuntahkan darah sebelum benar-benar ambruk ke lantai. Ia menatap Naosaka dari ujung rambut ke ujung kaki, dan ada sesuatu yang berbeda dari si rambut hitam itu. “Kau... kau bukan Naosaka Akemi yang kukenal!!” serunya. “Memang bukan.” Naosaka menyeringai kejam, “Aku bukan Naosaka Akemi, tapi Naosaka Akane. Tapi kau tidak perlu mengingatnya, Kurozuki Ren, karena sebentar lagi kau akan menyusul keluargamu, orang-orang yang kucincang beberapa minggu lalu.” Ia menginjak luka di punggung Ren, membuatnya berteriak kesakitan. “AAAAAAAAAAAARGH!!”
Naosaka menarik rambut Ren, memaksanya untuk mengangkat kepalanya. Lalu terkekeh sambil berbisik di telinganya, “Aku selalu ingin melenyapkanmu. Ternyata mudah sekali. Bersenang-senanglah di neraka, ‘teman’.” Setelah itu ia beranjak pergi, meninggalkan Ren yang terbaring penuh darah, di ambang maut.
........................................................................
==3 tahun kemudian==
........................................................................
“Yo, Ren!” sapa Loki yang baru masuk kelas. Nadanya enteng seperti biasa, seolah terlambat bukan masalah besar baginya. Kenyataannya, dia melewatkan satu mata kuliah. Sesungguhnya Ren ingin mencekik bocah pirang ini, tapi keadaan tidak mengizinkan.
“Ren?”
Ren hanya mendelik ke arah Loki, sebelum melanjutkan bacaannya. Loki hanya menghela napas, sudah terlalu terbiasa dengan sikap gadis ini. Setelah menaruh tasnya, ia mendekati Ren dan bertanya, “Kenapa kau tidak berbaur dengan yang lainnya?” “Aku tidak suka punya teman, Friedlandia. Teman adalah malaikat maut yang paling sadis.” jawab Ren. Loki hanya terdiam, menyadari betapa gelapnya mata Ren saat memberikan jawaban itu. “Tapi, kau mau berteman denganku, kan?” tanyanya lagi. Di luar dugaan, Ren tersenyum. Senyumnya manis dan lembut.
“Berteman dengan ayah sendiri terdengar... menyenangkan.”
Loki membalas senyuman itu dengan kekehan pelan. Benar juga, dia inkarnasi Loki dan Ren inkarnasi Hel. Mereka ayah dan anak... yang sekarang, dan seterusnya akan menjadi teman.
==End==
........................................................................
==Bonus Scene==
Ren hanya diam. Pikirannya kacau, sulit baginya menerima kenyataan kalau selama ini dirinya berteman dengan orang yang justru ingin membunuhnya. Setitik kebencian terlintas di otaknya. Ia ingin mengejar Naosaka dan menghabisinya. Namun dia sendiri sedang menuju kematiannya.
[Ren! Ren!!]
Matanya mengerjap. Suara itu lagi, eh?
[Ren!!]
Penglihatannya redup. Di sela-sela kegelapan yang menguasai, dapat dilihatnya sesuatu yang melayang. Sebuah emblem yang berbentuk kepala serigala. “Jadi itu kau...”
[Ren, ambil Ornament ini dan jadilah vessel-ku.]
“Eh...?”
[Kau masih ingin hidup, kan?]
“Tunggu... kenapa... aku harus melakukannya? Apa untungnya... bagiku...?”
[Aku akan menyembuhkanmu, dan kau bisa membalaskan dendammu.]
...Dendam. Mungkin itu yang ia rasakan sekarang. Tapi kondisinya...
“Benarkah...?”
<<Deg...>>
Ia bisa merasakan detak jantungnya melemah.
[Ren!!]
“Bodoh... aku... sudah mau mati, tau...”
Tapi tangannya tetap berusaha meraih benda itu--Ornament--apalah itu namanya. Napasnya sudah nyaris tak terdengar saat ujung jarinya menyentuh benda itu.
‘Tidak ada waktu lagi... cepatlah... berikan aku kekuatanmu...’
........................................................................
Hening.
Tangannya jatuh. Tubuhnya sudah tak bergerak. Matanya perlahan menutup.
‘Apa aku...’
[...gagal?]
<<Sriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing...>>
Sesuatu di genggaman Ren mengeluarkan sinar kebiruan, yang lalu menyelimuti tubuhnya. Perlahan luka di punggungnya menutup.
[Ren...]
‘Hnn?’
[Bangunlah.]
Ren membuka matanya, lalu bangkit dari ‘tidur’nya. “Aku merasa lebih baik.” gumamnya. Ia lalu membuka genggamannya dan tersenyum. Berhasil. Ia berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.
[Nah, mulai sekarang kau adalah vessel-ku. Aku Hel, dewi penjaga Helheim.] Benda di tangannya bersuara. “Salam kenal, Hel. Aku tidak begitu mengerti apa maksudmu dengan ‘vessel’, tapi aku tidak ingin berteman denganmu.” kata Ren.
Ren benar-benar yakin kalau hubungan mereka tidak lebih dari dewi-inkarnasi, namun lama kelamaan dia pasti akan menganggap Hel lebih dari itu.
Rabu, 13 Januari 2016
Sabtu, 05 September 2015
The Jewel-Flower Showdown
Disclaimer :
Res, aku pinjam Morgan-Miyumi!
Sailor Moon © Takeuchi Naoko
Saint Seiya © Kurumada Masami
****
Res, aku pinjam Morgan-Miyumi!
Sailor Moon © Takeuchi Naoko
Saint Seiya © Kurumada Masami
****
"Rosa, waktunya sudah tiba. Ayo mengamuk!"
"Chiron Star Power, Make-Up!"
"Rosa Morganite!"
"Sailor Chiron!"
Aphrodite berjalan ke teras belakang kuilnya sambil membawa dua cangkir teh mawar, untuk dirinya dan Seiya. Seiya sendiri sedang menonton duel di sana. Duel antara muridnya--Miyumi, alias Sailor Chiron--dan murid Aphrodite--Morganite, di tengah taman Demon Rose.
"Seiya." Aphrodite menyodorkan satu cangkir pada gadis berambut hitam itu. Seiya memperhatikan tehnya sesaat, lalu mengalihkan pandangan pada Aphrodite dengan setengah curiga, setengah ngeri. "Ini bukan teh Demon Rose, kan?" selidiknya. "Bukan, lah! Ini mawar asli!" jawab Aphrodite kesal sambil menjitak Seiya, lalu lanjut menonton muridnya bertarung. Sesekali tawa kecil meluncur dari bibirnya yang berhiaskan lipgloss peach, saat melihat Morganite dan Chiron yang saling menyerang dengan gerakan sama persis.
"Empress Wreath!" Ribuan kelopak bunga melesat ke arah Chiron, lama-kelamaan membentuk lingkaran seperti saucer.
"Diamond Eclipse!" Cahaya putih keperakan berputar di depan Chiron, lalu dari pusat lingkaran cahaya itu muncul beam yang melesat ke arah Morganite.
--SRRRRSSSHH--
"Uffh--!!"
--DUARRRR--
"Gwah!!"
Keduanya terpental ke belakang, namun segera bangkit lagi. Yang membuat Aphrodite nyaris tersedak tehnya adalah, gerakan mereka berdua lagi-lagi sama persis. "Ckckck, benar-benar bagai pinang dibelah dua." komentar Seiya sambil menggelengkan kepalanya, membuat ponytail-nya bergerak kesana kemari dengan brutal dan nyaris menggeplak pria jelita di sampingnya. Untungnya Aphrodite sempat salto beberapa puluh sentimeter ke belakang Seiya sebelum kumpulan helai hitam itu mengenai wajahnya.
"Scratching Storm!" Morganite memunculkan duri-duri tanaman yang berjatuhan dengan cepat layaknya hujan, dan sepertinya akan sulit dihindari.
"Amethyst Rolling Umbrella!" Chiron mengangkat Mali Glassrod dan memutarnya, membentuk kekkai berwarna ungu transparan yang mengelilinginya dan menangkis duri-duri kiriman sang Saint Rosa. Lalu tiba gilirannya untuk balas menyerang.
"Chiron Amber Bead Rush!" Chiron melesatkan pukulan berupa cosmo yang berubah menjadi butiran-butiran keemasan.
"Garland Shading!" Holy Garland di belakang Morganite langsung mengelilingi pemiliknya, melindunginya dari siraman 'debu bintang' Chiron.
Hening sesaat sebelum keduanya berteriak, "CURANG! KAU MENIRUKU!" Seiya dan Aphrodite facepalm kompakan. "Sadarkah kalian kalau sejak tadi kalian melancarkan serangan yang sama...?" gumam Aphrodite. "Aku nggak mau bayangin kalau selanjutnya mereka sama-sama pakai jurus ilusi." desis Seiya, yang dibalas anggukan setuju dari sang Pisces. Menit-menit berikutnya diisi dengan adu kaki Morganite dan Chiron.
Bosan saling menendang, Chiron pun memutuskan untuk mengakhiri pertempurannya dengan jurus terkuatnya. Tangannya memunculkan bayang-bayang Chiron Orbit Rod. Di sisi lain, Morganite sudah menyiapkan jurusnya. Gambaran jaring berupa sulur penuh bunga muncul di belakangnya dan terus menjalar ke telapak tangannya.
"Chiron! Moonstone Impulse!!"
"Spectrum Bouquet!!"
--DUAAAAAAAAAAAARRRRRRR--
Seiya dan Aphrodite refleks menutup mata karena iluminasi tingkat tinggi yang ditimbulkan kedua murid mereka. Selama beberapa detik (ditambah efek slowmotion) ledakan cosmo mereka bertahan dan hampir menghancurkan area pertarungan (baca : taman Aphrodite). Namun sebelum mawar-mawar di sana tercabik-cabik, ledakannya perlahan menghilang. Morganite dan Miyumi--yang sudah melepas transformasinya--terkapar di tengah taman, dengan napas tak beraturan dan sekujur tubuh basah oleh keringat.
"Seseram ini..." desis Seiya, masih belum pulih dari rasa kagetnya. Aphrodite sendiri bukannya berniat membawa Morganite dan Chiron, ia malah membiarkan keduanya tergeletak tanpa nyawa di tengah taman beracunnya dan melenggang masuk ke kuilnya.
"Eh, Dite--"
"Biarkan saja, mereka bisa bangun sendiri kok nanti."
==Cliffhanger End==
Silahkan pikirkan sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya~ diriku lelah karena WB stadium akhir. :")
"Eh, Dite--"
"Biarkan saja, mereka bisa bangun sendiri kok nanti."
==Cliffhanger End==
Silahkan pikirkan sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya~ diriku lelah karena WB stadium akhir. :")
Senin, 17 Agustus 2015
Notice #3 : Olympus Familias
Yahaaaaaaaaaa... Hari ini Olympus Familias resmi lahir! Hulululululu~
Oh, buat yang belum tau, Olympus Familias adalah grup RP bertemakan dewa-dewi Olympus. Di sana udah ada Hades, Zeus, Aphrodite, Hera, Athena, Poseidon (female, jadinya Poseina :v ), Hestia, Artemis, dan Persephone yang diperankan Res-sama kita tercinta~
Oh iya, di sini kita butuh beberapa orang lagi buat ngisi peran dewa yang kurang. Yang cowok, jago RP, dan punya banyak waktu luang buat RP, mau ikutan gak? :"3
Ah, btw, tema postingan di blog ini labil banget, ya.
----Emyst
Oh, buat yang belum tau, Olympus Familias adalah grup RP bertemakan dewa-dewi Olympus. Di sana udah ada Hades, Zeus, Aphrodite, Hera, Athena, Poseidon (female, jadinya Poseina :v ), Hestia, Artemis, dan Persephone yang diperankan Res-sama kita tercinta~
Oh iya, di sini kita butuh beberapa orang lagi buat ngisi peran dewa yang kurang. Yang cowok, jago RP, dan punya banyak waktu luang buat RP, mau ikutan gak? :"3
Ah, btw, tema postingan di blog ini labil banget, ya.
----Emyst
Jumat, 06 Februari 2015
Happy Birthday, Aquarius!!
Disclaimer : 12+ © antaRES
==27 Januari==
==27 Januari==
Hari ini pun ruangan utama hanya berisi 10 dari 12 Zodiac. Pisces sudah tidur lebih dulu karena kelelahan melatih Camelopardalis dan Vulpecula. Sedangkan Aquarius? Pria serba ungu itu lagi-lagi menghilang seenaknya. Dan jujur, itu membuat Leo jadi tidak tenang.
"Hei, apa kalian melihat Aquarius?" Entah sudah berapa kali pertanyaan itu ia lontarkan, dan entah berapa kali pula yang lain hanya diam atau menjawab dengan gelengan, yang tentunya terus menambah kekhawatiran di hati bocah pink itu. Setelah beberapa puluh menit hanya ada acara diam-diaman, tatap-tatapan, kedip-kedipan, dan lain sebagainya, Sagittarius akhirnya buka suara. "Leo..." "Hng?" Leo langsung fokus ke asal suara. "Apa kamu memikirkan Aquarius?" tanya Sagittarius sambil mengelus kepala adik bungsunya itu. Leo mengangguk pelan, lalu bertanya balik, "Apa Aquarius membenci kita?" Seisi ruangan pun beku dengan sukses. Merasakan hawa depresif di sekelilingnya, Sagittarius mengisyaratkan pada yang lain untuk masuk ke kamar masing-masing. Begitu yang lain pergi, raut wajah sang rasi pemanah perlahan berubah. Seringai iblisnya mengagetkan Leo selama beberapa saat.
"Kamu yang paling pintar, pasti bisa menyusun rencana untuknya."
==5 Februari==
Tepat jam 23:50. Bunyi lonceng terdengar dari balik pintu saat Aquarius memasuki kamarnya. Untungnya Gemini dan Geminor masih terlelap, tapi lonceng itu menarik perhatian sang Zodiac ungu. Bunyinya tidak terdengar normal, lebih seperti suara tawa anak-anak. Dan warnanya pink-ungu dengan hiasan bintang. Seakan tahu sesuatu, Aquarius langsung menutup tubuh Gemini dengan selimut dan menggulungnya ke ujung tempat tidur, dekat dinding. Lalu ia menunggu, sambil terus memperhatikan pintu kamarnya dan menghitung mundur.
23:55. "Năm..." (5)
23:56. "Bốn..." (4)
23:57. "Ba..." (3)
23:58. "Hai..." (2)
23:59. "Một." (1)
Tok tok tok. "Aquarius?"
Pria berdarah Vietnam itu tahu ada yang akan memberikan kejutan, tapi yang membuatnya kaget adalah orang yang muncul di depan kamarnya. Ya, Leo, sang putri singa. "BUSET! SI PINK BELUM TIDUR RUPANYA!!" Kira-kira begitulah isi pikiran Aquarius saat ini.
Skip ke percakapan mereka. (kode : ungu = Aquarius, pink = Leo)
"Er... Leo, ya?" (pura-pura lupa)
"Iya! Ini Leo!"
"Belum tidur? Ini sudah larut."
"Siang tadi aku tidur terlalu lama, hehehe~"
"Dasar bandel. Lalu sekarang apa yang kau lakukan di sini?"
"Err... emm... apa ya tadi...?" (pura-pura lupa)
".........."
"Emm..."
"Aku menunggu~"
"Aduh, aku lupa."
"Kalau begitu selamat ti--"
"Chestit rozhden den! Chúc mừng sinh nhật! Selamat ulang tahun, Aquarius!" (pakai bahasa Bulgaria & Vietnam)
"......!? L-Leo...??"
Begitu Aquarius membuka pintu, Leo langsung menerjang dan memeluknya erat-erat. Meskipun awalnya hanya ada rasa kaget yang menguasainya, perlahan ia membalas pelukan gadis kecil itu sambil berbisik lembut, "Terima kasih..." Mendengar kata-kata itu, Leo menelan ludah, menepis rasa bersalah atas kecurigaannya tempo hari, dan bertanya, "Aquarius tidak membenci kami?" Aquarius tersentak sedikit, menyadari bahwa sifatnya yang tertutup telah membuat Leo cemas. "Maafkan aku... aku tidak membenci kalian, hanya saja... aku... tidak begitu suka keramaian... maaf..." jawabnya terbata-bata. "Aku senang kau ingat ulang tahunku..." "Aku juga senang bisa ngobrol dengan Aquarius! Dan maaf juga sebelumnya aku sudah mikir yang aneh-aneh..." kata Leo sambil tersenyum senang. Melihat itu, Aquarius ikut tersenyum.
"Ungh... pengap... Change Geminor...!"
Momen dramatis itu hancur seketika saat aura hijau menguar dari sudut kamar. Ya, Aquarius lupa total kalau Gemini masih jadi sushi gulung selimut. Dan terpaksa ia harus mendepak Leo keluar karena tugas baru menantinya : menjinakkan Gemini yang sudah berubah wujud.
==END==
"Ngomong-ngomong, kenapa kau memberiku lonceng?" tanya Aquarius. "Agar aku bisa tahu kalau kau sudah pulang. Sebelumnya Sagittarius menyarankanku memberikan hadiah yang hanya bisa dibuat olehku, jadi aku langsung kepikiran mau buat lonceng, hehehe~" jelas Leo sambil tertawa dengan cengiran khasnya.
====
W/N : So... this is it! Happy (belated) birthday buat Aquarius, sang master menghilang! Semoga hubunganmu dengan yang lain semakin baik!
※06-02-2015※
"Kamu yang paling pintar, pasti bisa menyusun rencana untuknya."
==5 Februari==
Tepat jam 23:50. Bunyi lonceng terdengar dari balik pintu saat Aquarius memasuki kamarnya. Untungnya Gemini dan Geminor masih terlelap, tapi lonceng itu menarik perhatian sang Zodiac ungu. Bunyinya tidak terdengar normal, lebih seperti suara tawa anak-anak. Dan warnanya pink-ungu dengan hiasan bintang. Seakan tahu sesuatu, Aquarius langsung menutup tubuh Gemini dengan selimut dan menggulungnya ke ujung tempat tidur, dekat dinding. Lalu ia menunggu, sambil terus memperhatikan pintu kamarnya dan menghitung mundur.
23:55. "Năm..." (5)
23:56. "Bốn..." (4)
23:57. "Ba..." (3)
23:58. "Hai..." (2)
23:59. "Một." (1)
Tok tok tok. "Aquarius?"
Pria berdarah Vietnam itu tahu ada yang akan memberikan kejutan, tapi yang membuatnya kaget adalah orang yang muncul di depan kamarnya. Ya, Leo, sang putri singa. "BUSET! SI PINK BELUM TIDUR RUPANYA!!" Kira-kira begitulah isi pikiran Aquarius saat ini.
Skip ke percakapan mereka. (kode : ungu = Aquarius, pink = Leo)
"Er... Leo, ya?" (pura-pura lupa)
"Iya! Ini Leo!"
"Belum tidur? Ini sudah larut."
"Siang tadi aku tidur terlalu lama, hehehe~"
"Dasar bandel. Lalu sekarang apa yang kau lakukan di sini?"
"Err... emm... apa ya tadi...?" (pura-pura lupa)
".........."
"Emm..."
"Aku menunggu~"
"Aduh, aku lupa."
"Kalau begitu selamat ti--"
"Chestit rozhden den! Chúc mừng sinh nhật! Selamat ulang tahun, Aquarius!" (pakai bahasa Bulgaria & Vietnam)
"......!? L-Leo...??"
Begitu Aquarius membuka pintu, Leo langsung menerjang dan memeluknya erat-erat. Meskipun awalnya hanya ada rasa kaget yang menguasainya, perlahan ia membalas pelukan gadis kecil itu sambil berbisik lembut, "Terima kasih..." Mendengar kata-kata itu, Leo menelan ludah, menepis rasa bersalah atas kecurigaannya tempo hari, dan bertanya, "Aquarius tidak membenci kami?" Aquarius tersentak sedikit, menyadari bahwa sifatnya yang tertutup telah membuat Leo cemas. "Maafkan aku... aku tidak membenci kalian, hanya saja... aku... tidak begitu suka keramaian... maaf..." jawabnya terbata-bata. "Aku senang kau ingat ulang tahunku..." "Aku juga senang bisa ngobrol dengan Aquarius! Dan maaf juga sebelumnya aku sudah mikir yang aneh-aneh..." kata Leo sambil tersenyum senang. Melihat itu, Aquarius ikut tersenyum.
"Ungh... pengap... Change Geminor...!"
Momen dramatis itu hancur seketika saat aura hijau menguar dari sudut kamar. Ya, Aquarius lupa total kalau Gemini masih jadi sushi gulung selimut. Dan terpaksa ia harus mendepak Leo keluar karena tugas baru menantinya : menjinakkan Gemini yang sudah berubah wujud.
==END==
"Ngomong-ngomong, kenapa kau memberiku lonceng?" tanya Aquarius. "Agar aku bisa tahu kalau kau sudah pulang. Sebelumnya Sagittarius menyarankanku memberikan hadiah yang hanya bisa dibuat olehku, jadi aku langsung kepikiran mau buat lonceng, hehehe~" jelas Leo sambil tertawa dengan cengiran khasnya.
====
W/N : So... this is it! Happy (belated) birthday buat Aquarius, sang master menghilang! Semoga hubunganmu dengan yang lain semakin baik!
※06-02-2015※
Kamis, 08 Januari 2015
Sifat Gold Saints ND di Fanfiction (Res version)
Oke, selain Silver Saints, para Gold ND (Next Dimension) juga
jarang dapat fic karena minimnya sinop yang tersedia untuk nge-define mereka.
Scan manga-nya yang bahasa Inggris baru sampai chapter 41, sedangkan aslinya
udah sampai chapter 68. Scan bahasa Portugis/Spanyol bertebaran (?) di Google,
tapi sebaiknya buka Google Translate juga kalau mau baca. Udah deh, ayo skip ke
sifat-sifat para Gold ND.
- Aries Shion : loncat ke 243 tahun yang lalu, Shion di sini masih rada kekanakan karena baru naik pangkat. *di-Stardust Revolution* Posisinya kira-kira di antara Dohko sama Suikyo (lihat gambar). Masih bocah kayak Dohko, tapi tetap kalem kayak Suikyo. Selalu jadi penengah kalau dua temannya berantem.
- Taurus Ox : Samain aja dengan Aldebaran, soalnya di manga kemunculannya sedikit (keburu mati di tangan Suikyo). Sohibnya Izo, sama-sama suka isengin Dohko-Shion-Tenma yang masih bocah.
- Gemini Cain : beda dengan Saint Gemini lain, dia sama adiknya terlahir dalam satu badan. Akhirnya mereka harus rebutan muncul, dan biasanya Cain yang mengalah (biarpun kalau masalahnya udah menyangkut "perang dengan Ikki" dia bakal langsung ambil alih badannya). Dia juga mirip Saga, cuma lebih serius dan nggak kepolosan.
- Gemini Abel : adiknya Cain yang satu badan sama kakaknya. Kalau Cain mirip Saga, Abel mirip Ares!Saga & Kanon digabung. Ambisius, songong, bandel, tsundere, usil tingkat dewa, dan... sama dengan Kanon, selalu ngincar Ikki. Dan dibandingkan yang lain, dia selalu up-to-date soal keadaan Sanctuary (kalau AU dan gabung sama era lain, dijamin dia update sampai ke Omega).
- Cancer Deathtoll : kalau di Classic bancinya para Gold itu Aphrodite (Res kena amuk Dite fans :p ), nah si kepiting ini bancinya Gold ND. Tapi bukan berarti dia nggak serem, lho. Deathmask kan hiasin kuilnya sama muka mayat, Deathtoll hiasin kuilnya pakai berbagai peti mati dari seluruh dunia, dan semuanya dibuat sendiri (oh, muka mayatnya juga masih eksis di kuil Cancer). Meskipun bancinya nggak ketulungan (yang ini terang-terangan godain Kaiser), dia jago bohongin lawannya, nyehehe~ Kalau naik darah, dia bakal keluarin kotak Omerta—yang katanya kalau sudah masuk situ nggak akan bisa keluar.
- Leo Kaiser : tipe “Leo sejati” dan “calon ayah yang baik”, okesip. Dia lebih serius dibanding Aiolia dan punya singa beneran namanya Goldie. Dia baik sama anak-anak, terutama Tenma & Shun.
- Virgo Shijima : Shaka versi rambut merah, so to say. Pendiam, seriusan, suka muncul tiba-tiba, dan kalau marah kejam kelewatan. Tapi ada sisi baiknya juga sih... dan dia juga sayang banget sama Athena.
- Libra Dohko : yang ini jangan ditanya. Sama kayak di Classic & TLC, dengan tambahan suka melipir ke kuil Leo untuk main sama Goldie kalau Shion sama Suikyo nggak ada.
- Capricorn Izo : Shura + El Cid + Shiryu dengan darah Jepang (Excalibur-nya nihonto, by the way). Tapi biarpun datar, dia diam-diam iseng banget. Biasa isengin Dohko-Shion-Tenma bareng Ox.
- Pisces Cardinale : cantik seperti Saint Pisces Albafica & Aphrodite, tapi yang ini lebih kejam dan sehati sama Abel. Bedanya Abel ngincar Ikki, sedangkan Cardinale ngincar Shijima. Dia juga sebenernya tau banyak tentang seluk-beluk Sanctuary, tapi ngerahasiain dari yang lain.
Minggu, 16 November 2014
Notice #2 : 511 Trash Alert
Fwaaaaaaaah..... Emyst ganti goal lagi (sebagian sih), jadi mungkin blog ini pasti bakal disampahi sama hal-hal berbau Team 511, tapi nanti tentang series lain masih dipost kok. Meskipun dominasinya tetap di Team 511, sih... *dibantai*
Tunggu saja postingan berikutnya. Addio!
----Emyst
Tunggu saja postingan berikutnya. Addio!
----Emyst
Selasa, 04 November 2014
Team 511 (Chapter 4 : The Awakening)
Disclaimer : Ice of Clovers, Fuyutai Yukirangers, Compass-10, November Solstice, Festive Piracy © antaRES
Hawa dingin melingkupi makam Scorpion, disusul dengan sepasang tangan yang melesat ke arah YukiBlue dan Blue Clover. Keduanya langsung menghindar dan melancarkan jurus.
"Bullet Rain!"
"Crescent Missiles!"
Sesaat ledakan kecil muncul, menandakan serangan mereka berhasil. Namun lengan platina itu tiba-tiba muncul dari belakang dan membelit YukiBlue, memaksanya kembali ke wujud Shun. Dari kejauhan, Selene menarik lengannya yang melilit tubuh Shun. "Satu dapat~" katanya dengan nada menggoda. Ruchi dan Kanna muncul tiba-tiba, menembakkan Empty Shot ke arah Blue Clover, yang refleks kembali ke wujud Natsuki. "Gah..." erangan pelan terdengar dari pemilik iris chocolate itu saat angin kosong Empty Shot menembus jantungnya, bersamaan dengan tubuhnya yang menhantam lantai kaca. "Lemah banget." ejek Kanna sambil menginjak leher Natsuki, memutuskan sistem pernafasannya. "Dengan ini, selesai." katanya sambil mengarahkan sabitnya ke wajah Natsuki yang mulai memucat. Sesaat sebelum ia mengayunkan sabitnya, tiba-tiba Selene berteriak. Lengannya perlahan membeku. Shun yang masih tak bergerak menyeringai dingin, "Jangan meremehkanku. Aku yang selalu melekat dengan es, tak mungkin kalah dari ular logam ini. Oh, by the way, musuhmu sudah datang." Jasper muncul dari atas dan langsung memotong kedua lengan Selene dengan jarinya. "KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"
"Ternyata kau masih punya darah..." gumam Jasper saat melihat cairan raksa berwarna kemerahan dari lengan Selene yang tergeletak di lantai. "Tapi bukan berarti aku akan menolongmu." "Siapa juga yang mau?" balas Selene sinis. Sepasang lengan baru perlahan muncul kembali dari bahunya. "Aku punya regenerasi."
Natsuki berhasil melepaskan diri dari Kanna, Shun juga sudah membekukan setengah bagian tubuh Ruchi. "Kau! Dasar perempuan iblis!!" teriak Ruchi. "Lalu? Apa mendiamkan lebih biadab dari memanipulasi?" balas Shun dingin sambil terus membekukan lawannya. "Akan kumasukkan kau dalam peti mati abadi..." Sialnya, sebelum mencapai leher, es itu pecah berkeping-keping dan Ruchi langsung menghantam kepala Shun, yang untungnya masih bisa ditangkis dengan tendangan. "Aku tak ingin kepalaku pecah terlalu awal." kata Shun disertai geraman murka.
Nai dan ketiga November Solstice naik ke atap kuil. Artifak yang dimaksud Maicel ada di sana. Sebuah kristal moonstone berbentuk teratai. Cahaya yang dipantulkannya membentuk spektrum bagaikan pelangi. Begitu tangan Maicel menyentuhnya, tiba-tiba artifak itu mengeluarkan cahaya kehiraman, menghancurkan kacamata yang dipakai Cyrus tanpa sisa.
Di bawah, kacamata Natsuki dan visor Jasper juga hancur, membuat keadaan mereka berbalik sementara. Lengan Selene kembali melilit tubuh Jasper dan cakaran Kanna meretakkan tulang betis Natsuki. Serangan Ruchi pun kali ini berhasil mengenai kepala Shun, membuat gadis beriris goldenrod pucat itu kehilangan konsentrasinya sesaat, meskipun ia masih sempat membekukan Ruchi lagi.
"Hentikan."
Suara itu muncul bersamaan dengan kilat yang menghancurkan Ruchi, Kanna, dan Selene. Tak lama kemudian seseorang muncul dan berjalan ke arah asal kilat tadi, sambil membawa lapis lazuli berbentuk meteor. Hampir seluruh tubuhnya terbungkus armor yang mirip dengan battlesuit Compass-I-- tunggu, bukankah itu Akito? Kenapa penampilannya sangat berbeda?
Dari sumber kilat itu, Nai, Cyrus, Wanda, dan Maicel ikut muncul, mengenakan armor yang mirip battlesuit masing-masing. Keempatnya berlutut, di depan mereka artifak yang tadi ditemukan Maicel berubah wujud menjadi sesosok wanita anggun. Akito menyerahkan lapis lazuli yang dibawanya pada wanita itu. "Agora, tu deve despertar. O dia chegou para proteger este reino." ucapnya. Seketika suhu dalam kuil menurun drastis, mengubah keadaan sekeliling menjadi duri-duri es. Sebelum yang lain sempat berpikir, sebuah suara terdengar.
"Wake up, Gatekeepers..."
==Lacraia Temple==
"Empat orang terakhir sudah datang, Sono-sama."
Sono menatap empat anak di hadapannya dengan puas. "Bawa mereka ke Slumber Room, Cisma." perintahnya. Cisma mengangguk, lalu menuntun empat anak itu ke sebuah ruangan yang dipenuhi ranjang bertutup kaca seperti kapsul. Dan Team 511... ada di sana, terlelap dan kaku. Setelah memasukkan keempatnya ke dalam ranjang yang sama, Cisma tersenyum simpul sambil berbisik, "Mimpi indah untuk kalian, hingga saatnya bangun nanti."
----END----
WN : This is it! Happy Birthday, antaRES!! Dan maaf banget kalau endingnya absurd... (_ _|||)~> Anyway, happy 511 Day buat Team 511~
Di bawah, kacamata Natsuki dan visor Jasper juga hancur, membuat keadaan mereka berbalik sementara. Lengan Selene kembali melilit tubuh Jasper dan cakaran Kanna meretakkan tulang betis Natsuki. Serangan Ruchi pun kali ini berhasil mengenai kepala Shun, membuat gadis beriris goldenrod pucat itu kehilangan konsentrasinya sesaat, meskipun ia masih sempat membekukan Ruchi lagi.
"Hentikan."
Suara itu muncul bersamaan dengan kilat yang menghancurkan Ruchi, Kanna, dan Selene. Tak lama kemudian seseorang muncul dan berjalan ke arah asal kilat tadi, sambil membawa lapis lazuli berbentuk meteor. Hampir seluruh tubuhnya terbungkus armor yang mirip dengan battlesuit Compass-I-- tunggu, bukankah itu Akito? Kenapa penampilannya sangat berbeda?
Dari sumber kilat itu, Nai, Cyrus, Wanda, dan Maicel ikut muncul, mengenakan armor yang mirip battlesuit masing-masing. Keempatnya berlutut, di depan mereka artifak yang tadi ditemukan Maicel berubah wujud menjadi sesosok wanita anggun. Akito menyerahkan lapis lazuli yang dibawanya pada wanita itu. "Agora, tu deve despertar. O dia chegou para proteger este reino." ucapnya. Seketika suhu dalam kuil menurun drastis, mengubah keadaan sekeliling menjadi duri-duri es. Sebelum yang lain sempat berpikir, sebuah suara terdengar.
"Wake up, Gatekeepers..."
==Lacraia Temple==
"Empat orang terakhir sudah datang, Sono-sama."
Sono menatap empat anak di hadapannya dengan puas. "Bawa mereka ke Slumber Room, Cisma." perintahnya. Cisma mengangguk, lalu menuntun empat anak itu ke sebuah ruangan yang dipenuhi ranjang bertutup kaca seperti kapsul. Dan Team 511... ada di sana, terlelap dan kaku. Setelah memasukkan keempatnya ke dalam ranjang yang sama, Cisma tersenyum simpul sambil berbisik, "Mimpi indah untuk kalian, hingga saatnya bangun nanti."
----END----
WN : This is it! Happy Birthday, antaRES!! Dan maaf banget kalau endingnya absurd... (_ _|||)~> Anyway, happy 511 Day buat Team 511~
Langganan:
Postingan (Atom)
